Sabtu, 21 April 2012

Kamu Dan Jantungku


Hujan mulai turun membasahi bumi yang sudah gundul akan ulah manusia. Seorang anak lelaki sedang asik mendengarkan riuhnya suara hujan dari dalam kamar rumah sakit. “Hapsa, makananya cepet dimakan! Keburu dingin!” sontak mamanya yang melihat makanan diatas meja tak berkurang semili pun. “Iya mah bentar.” Jawab Hapsa dengan nada lesu.

                Setahun yang lalu, Hapsa didiagnosa mengidap penyakit gagal jantung. Hari demi hari setelah dia tahu penyak yang menyerangnya, dia mulai galau, resah tak menentu. Nasi goreng yang biasanya dia makan dengan lahap, kini tergelat mendingin diatas meja. Badannya yang dulu gemuk berisi, kini hanya tinggal tulang berbalut kulit.
                “Maaf bu, Hapsa harus segera dicangkok jantung kalau tidak bisa berakibat fatal.” Kata dokter.
                “Emang biayanya berapa dok?” Tanya mamahnya Hapsa.
                “Biayanya lumayan besar bu, mungkin 500jt.” Timbal dokter.
                “Baik dok, masalah biaya tidak masalah yang penting anak saya selamat.” Kata Bu Sakti.
Keesokan harinya, anak lelaki itu dieksekusi dibawah terangnya sinar lampu dan dinginnya ruang operasi. Tujuh jam berselang, dokter keluar dan berkata bahwa jantung buatan untuk Hapsa sudah dipasang dan harus dijaga dengan baik.
                Hidup anak lelaki ini belum kunjung normal tidak hingga dia menemukan seorang gadis yang menarik hatinya untuk merapat dipelabuhan cintanya. Gadis berhidung mancung, dengan rambut yang cantik terurai serta matanya yang indah telah member sedikit cahaya penyemangat bagi hapsa, dia bernama Dianty.
                Hari demi hari Hapsa mulai bersemangat layaknya menemukan sumber air dalam padang gersang. Kini hidupnya lebih berwarna, matanya yang dulu menatap bagaikan tiada kesempatan esok hari kini telah kembali bersinar. Tak sadar seberapa lama dan sedekat apa mereka, benih cintapun tumbuh diantara dua anak manusia ini.
                “Hai hapsa.” Begitulah Dianty selalu menyapa Hapsa ketika mereka berpapasan di sekolah. Dengan penuh rasa malu, Hapsa pun hanya tersenyum.
                Suatu hari, Dianty ditunjuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba di Jakarta. Dalam persiapan lomba tersebut, Hapsa merelakan waktu belajarnya demi Dianty bagaikan prajurit yang merelakan nyawanya demi rajanya.
                Hari demi hari berlangsung Hapsa dan Dianty sibuk dengan persiapan lomba dan tanpa disadari cinta yang tumbuh semakin besar, dimana sepermiliar dari cintanya dapat member arti hidup seorang bocah lelaki.
                Hari kamis, seperti biasanya Dianty tampak cantik dengan rambutnya yang terurai. Saat mereka berdua sedang sibuk mempersiapkan semua keperluan lomba, Dianty menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang tak tahu ada kekuatan apa didalamnya tetapi entah kenapa setiap dia melihat Dianty dengan atau tanpa menyanyikan lagu itu, jantung buatannya selalu berdetak lebih kencang dan tak akan berhenti setelah dianty menghilang dari pandangannya.  Meskipun Hapsa tau apa akibat jantungnya berdetak lebih kencang, dia tetap membiarkannya  selama Dianty lebih lama berada di dekatnya.
                Beberapa hari kemudian, Hapsa yang sedang berduduk santai sedang didalam kamar dan mengelus-elus dadanya sambil berkata, “rileks yak jantungku, kalo kecepeten ngko aku mati” mendengar lagu yang biasanya dinyanyikan oleh dainty. Tanpa kompromi, jantung Hapsa mulai berdetak kencang lagi dan Hapsa segera mencoba untuk mematikan lagu tersebut agar detak jantungnya kembali seperti semula. Setelah berhasil menghentikan lagu itu pada ponsel mamahnya, Hapsa kembali tidur ke kamar dan tidur.
                Keesokan harinya, kesepuluh kalinya Hapsa check up setelah setahun menjalani operasi cangkok jantung buatan. Tidak seperti biasanya Dokter ahli bedah yang menangani Hapsa begitu bimbang, seolah menyembunyikan sesuatu setelah pemeriksaan jantung.
“Ada apa dok?” Tanya Hapsa penasaran.
“K..kka…muu harus dioperasi lagi.” Jawab dokter dengan sedikit gagap.
“Kenapa gitu dok?!” Tanya Hapsa kembali semakin penasaran.
“Sebenarnya dalam operasi yang saya lakukan setahun yang lalu telah gagal, sebenarnya kamu sudah mati sekarang. Tapi entah kenapa kamu masih hidup, apakah ada sesuatu yang membuat jantungmu sering berdetak lebih kencaang?” jelas dokter.
“Mati dok?! Sebenarnya ada sesuatu yang membuat jantungku hberdetak lebih kencang tapi entah apa. Ada seorang wanita yang tiap aku melihatnya detak jantungku lebih kencang, tiap denger lagu yang dinyanyiin sama dia juga gitu.” Jelas hapsa.
“Mungkin semua itu yang membuatmu hidup lebih lama.” Jawab dokter.
“Makasih dok.” Jawab Hapsa singkat sambil keluar ruangan dokter.
Sepulang dari rumah sakit, Hapsa langsung pergi menemui dainty. Hapsa mulai mengungkap rahasianya tentang jantungnya, tetapi Dianty tidak percaya karena Hapsa dikenal sebagai cowo yang suka bercanda. Hapsa bercerita bagaimana dia bisa dioperasi, bagaimana hidupnya sebelum dan setelah ketemu dengannya, bagaimana kata dokter tadi dan Hapsa pun bilang kalo dia akan segera mati akibat penyakit jantungnya.
Keesokan harinya, Hapsa tak seperti biasanya yang memperlakukan Dianty dengan manja dan perhatian. Hapsa mulai berubah, mungkin perubahan yang tak akan menyangka kalo cewe yang dia suka akan menghindarinya. Hapsa mulai bersifat cuek, masa bodoh dan semua bercandanya yang semakin gila. Akhirnya tanpa Hapsa sadari, Dianty, cewe yang dia suka mulai dekat dengan cowo lain, sebut saja Dima. Hapsa semakin geram dan semakin mempertahankan Dianty.
Seperti biasanya Hapsa dating kerumah, tetapi kali ini berbeda. Hati hapsa hancur seperti laptop yang dibanting, di depan rumah Dianty ada sebuah motor, mungkin motornya Dima yang sedang dekat dengan Dianty. Tak mau masuk kerumah, Hapsa pun menelepon Dianty yang sedang bersama Dima menhibur adik Dianty yang sedang menangis.
“I won’t go home without you…..” Hp Dianty berbunyi.
“Iya, halo. Ada apa sa?” balas Dianty.
“Kamu lagi ngapain di?” Tanya Hapsa.
“Iagi dirumah aja ni, gk ngapa-ngapain ok.” Jawab Dianty singkat.
“Aku udah di depan rumahmu ni, ada Dima ya di dalem?” Tanya Hapsa penasaran.
“Bukan urusanmu sa, pergi aja, ngapain kamu kesini!” Jawab Dianty agak membentak.
“Aku boleh masuk gk? Pengen ketemu kamu.” Jawab hapsa.
“Ketemu? Aku gamau ah, ngapain juga ketemu kamu. Walopun kamu ngancem bakal mati gara-gara penyakitmu itu, aku gk bakal mau ketemu kamu, titik!” jawab Dianty sambil menutup telepon.
“Di…di…,?” sahut Hapsa.
Hapsa pun segera pergi dari rumah Dianty, dan hari-hari berikutnya Hapsa tak terlihat lagi di sekolah karena penyakit jantungnya.
Untuk kesebelas kalinya Hapsa check-up dan bertemu dokternya. Dokternya berkata bahwa dia harus segera diopersai tetapi kemungkinan hanya 50% selamat, dan 50% mati. Bila Hapsa selamat dari operasi tersebut, dia akan hidup sangat lama dan bila gagal dia akan mati. Tanpa berpikir panjang Hapsa segera menyetujui operasi yang akan dilakukan kepadanya.
Seminggu kemudian, Hapsa menitipkan foto berduanya bersama Dianty kepada temannya. Hapsa berkata sambil member foto tersebut ke temannya,”kalo aku gk masuk sekolah lagi, kasi foto ini ke Dianty ya dan ngomong kalu dia cewe paling berarti di idupku.” Tanpa basa-basi, Hapsa segera ijin pulang untuk melakukan operasi jantungnya.
Hapsa menunggu 2 jam di Rumah sakit sebelum dia dipanggil untuk melakukan operasi. 5 jam kemudian, dokter yang mengoperasi Hapsa keluar dan bilang bahwa Hapsa tak tertolong. Dengan berat hati, seluruh keluarga Hapsa merelakan kepergiannya.
Dua minggu setelah kematian Hapsa, Dianty mulai bertanya tanya kemana perginya Hapsa 2 minggu ini. Sembari melamun, ada seorang temannya member foto yang diberikan Hapsa kepadanya dan berkata,”Kamu cewe yang paling berarti bagi Hapsa, Hapsa sayang banget sama kamu. 3 minggu yang lalu Hapsa nitipin ini buat aku, dia ngasi ini buat kamu. Hapsa udah mati gara-gara operasinya kemaren gagal.” Tanpa bisa berkata-kata, Dianty sangat sedih dan menyesali perbuatannya yang dilakukan kepada Hapsa.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 Bang Cermat. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates